Aceh Turun Kasta ke Peringkat 4 Wisata Ramah Muslim, PWPM Minta Evaluasi Total

Wakil Ketua PWPM Aceh, Sudarliadi (Foto: Dok. Pribadi untuk SeputarAceh.id)

acehtoday.id/ | Banda Aceh – Turunnya peringkat Aceh dari posisi kedua menjadi peringkat keempat dalam Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2025 menjadi perhatian berbagai kalangan.

Selama tiga periode sebelumnya, yakni 2018, 2019, dan 2023, Aceh konsisten berada di peringkat kedua sebagai provinsi paling ramah Muslim di Indonesia. Namun pada 2025, Aceh harus turun ke posisi keempat, di bawah Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Aceh, Sudarliadi, menilai penurunan peringkat itu harus menjadi bahan evaluasi bersama, bukan sekadar dipandang sebagai capaian statistik semata.

Nilai Islam Harus Tercermin di Pelayanan, Bukan Sekadar Identitas

Menurut Sudarliadi, Aceh sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam semestinya mampu mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas pelayanan dan ekosistem wisata ramah Muslim agar tetap menjadi rujukan nasional.

“Kita tidak boleh hanya berbangga dengan identitas sebagai daerah bersyariat. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Islam benar-benar tercermin dalam pelayanan publik, keramahan masyarakat, pengelolaan destinasi wisata, hingga kenyamanan yang dirasakan wisatawan,” ujar Sudar, Senin (13/7/2026).

Ia menyebut, perubahan peringkat tersebut menunjukkan bahwa sejumlah provinsi lain mampu bergerak lebih cepat dalam membangun ekosistem wisata halal yang lebih inovatif, modern, dan berorientasi pada kebutuhan wisatawan.

Karena itu, ia mendorong Pemerintah Aceh bersama seluruh pemangku kepentingan menjadikan hasil indeks tersebut sebagai masukan untuk melakukan pembenahan di berbagai sektor.

“Ini bukan soal siapa yang lebih islami, tetapi bagaimana kita menghadirkan pelayanan yang berkualitas, infrastruktur yang baik, promosi yang efektif, serta pengalaman wisata yang berkesan. Itu yang menjadi ukuran daya saing saat ini,” katanya.

Data IMTI 2025 Kemenpar (Tangkapan layar)
Data IMTI 2025 Kemenpar (Tangkapan layar)

Sudarliadi juga mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, organisasi masyarakat, dan komunitas kepemudaan dalam mengembangkan sektor wisata halal Aceh.

Menurutnya, Aceh memiliki modal besar berupa kekayaan budaya Islam, sejarah, serta destinasi wisata alam yang beragam, sehingga potensi tersebut perlu dikelola secara profesional agar memberi nilai tambah bagi perekonomian daerah.

Selain itu, ia menilai promosi wisata Aceh perlu diperkuat melalui pemanfaatan teknologi digital dan strategi pemasaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan industri pariwisata.

“Kalau kita ingin kembali menjadi salah satu daerah terbaik dalam indeks tersebut, maka inovasi harus terus dilakukan. Jangan sampai kita tertinggal karena daerah lain bergerak lebih cepat,” ujarnya.

Sudarliadi berharap penurunan peringkat ini dapat menjadi momentum introspeksi bagi seluruh elemen di Aceh untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan memperkuat citra Aceh sebagai destinasi wisata ramah Muslim yang unggul di tingkat nasional maupun internasional.**

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *